Media Mendukung Perempuan Terobsesi Cantik
![]() |
| sumber: pinterest |
Dampak
Standar Kecantikan
Menurut Sutriyanto dalam penelitian Dalilah Adani yang berjudul "Kampanye Marketing Public Relations BeBASEkspresi Mengenai Perubahan Stigma Standar Kecantikan Perempuan Indonesia" bahwa ketidakpuasan
akan bentuk fisik dapat mengarah pada hilangnya rasa kepercayaan diri. Lebih
dari itu, mereka mungkin juga melakukan upaya berlebihan seperti diet ketat,
terkena Bulimia nervosa, mengonsumsi obat-obatan, serta tindakan
atau akibat berisiko lainnya. Anak-anak perempuan dari generasi ke generasi
harus tumbuh dengan rasa insecure akan fisik mereka. Munculnya berbagai
produk perawatan kulit yang menawarkan hasil tampilan wajah putih serta mulus
tanpa noda, tetapi dengan menggunakan bahan berbahaya juga merupakan akibat
dari adanya standar kecantikan. Oleh karena itu,
mencegah perundungan dan diskriminasi adalah bentuk kemanusiaan yang harus kita
upayakan bersama-sama.
Secara
tidak sadar, kasus standar kecantikan ini sering kita jumpai pada media sosial,
seperti akun instagram @ugmcantik, @undipcantik, @umscantik, @unscantik, dan
sejenisnya, yang dianggap sebagai produk digitalisasi, dipandang sedang
menciptakan standar dan tuntutan kecantikan. Kemudian,
banyak influencer yang rela merogoh kocek hanya untuk operasi
demi terlihat cantik dan menarik, yang rela menjalankan diet ketat untuk
memenuhi standar kecantikan masyarakat. Beauty privilege ini
terjadi pada kasus pembunuhan yang dilakukan Isabella Guzman yang membunuh ibu
kandungnya dengan 150 tusukan. Alih-alih mendapat kecaman atas
kekejamannya, Isabella justru mendapat dukungan dari publik lantaran memiliki
paras yang cantik, media pun menerbitkan artikel yang memuat diksi “cantik”
demi mengafirmasi daya tarik Isabella Guzman.
Pencegahan
Kepercayaan
diri berkaitan erat dengan persepsi kita tentang stereotip standar
kecantikan. Self-care dapat membantu membangun kekuatan diri
dari dalam sehingga perlahan bisa melihat perubahan dalam diri. Perlu juga
menanamkan kecintaan terhadap dirimu sendiri. Dengan menerima diri sendiri,
kita akan lebih merasa nyaman dengan diri sendiri termasuk penampilan fisik
yang kita miliki. Rasa nyaman menjadi diri sendiri juga akan membuat kita
mengabaikan komentar buruk orang lain. Bersyukur dapat membuat seseorang
menikmati hidupnya secara positif serta dapat menunjang rasa penghargaan
siri (self esteem) dan kebergunaan diri (self
worth) (Lyubomirsky, 2007 dalam Arief & Habibah, 2015).
Wilcox
& Laird (2000) dalam penelitian yang berjudul “The Impact of Media
Images of Super-Slender Women on Women’s Self-Esteem: Identification, Social
Comparison, and Self-Perception” menemukan bahwa terpaan media
merupakan salah satu faktor yang dapat memediasi internalisasi seseorang
terhadap konsep kecantikan ideal. Media, baik media massa dan media sosial,
dalam hal ini andil membentuk selera, hasrat, dan kondisi tubuh ideal tersebut.
Media selalu memperlihatkan gambaran kecantikan melalui visual-visual iklan.
Seperti terlihat pada iklan sabun, body lotions, face wash, yang
mengklaim bahwa produknya dapat memutihkan dan kata-kata yang menggambarkan
bahwa putih itu cantik.
Dalam
penelitian L. Ayu Saraswati yang berjudul “Cosmopolitan Whiteness: The
Effects and Affects of Skin Whitening Advertisements in a Transnational Women’s
Magazine in Indonesia”, penelitian ini berfokus pada efek iklan produk
pemutih, yaitu krim pemutih model kaukasia. Model Kaukasia tentu saja tidak
mewakili pasar di mana tempat produk dijual. Secara genetik, mereka tidak
memiliki DNA kulit yang sama dengan kulit yang dimiliki perempuan Indonesia. Selain
itu, iklan semacam ini juga mengirimkan pesan keliru terhadap perempuan
Indonesia, dengan menyarankan perempuan untuk memiliki warna kulit tertentu
yang secara alami tidak mungkin bagi mereka untuk memilikinya. Hal ini
menunjukkan adanya dorongan untuk menggunakan produk pemutih agar memenuhi
standar masyarakat di antara para perempuan Indonesia. Ini berarti media ikut
andil dalam hal standar kecantikan.
Kecantikan
itu ada dalam pribadi masing-masing. Semua standar ini hanya soal waktu dan
tempat, yang artinya semua ini adalah hal-hal yang tidak baku. Semua privilege
ini asalnya adalah dari cara pola pikir kita dan lingkungan sosial yang
membentuk. Cara mengubahnya pun tentu dengan merubah pola pikir kita untuk
menghargai perbedaan dan bangga atas apa yang kita punya. Perempuan itu
beragam, Tuhan telah menciptakan manusia
dengan sebaik-baiknya, terlepas ada cacat atau tidak pada tubuhnya. Meskipun
seorang wanita cacat secara fisik, di dalam dirinya pasti menyimpan potensi
atau kemampuan yang tidak dimiliki wanita lain. Potensi dan kemampuan itu yang
membuatnya cantik.

Komentar
Posting Komentar